Batu Andesit banyak digunakan dalam bangunan -bangunan megalitik , candi dan piramida. Begitu juga perkakas-perkakas dari zaman prasejarah banyak memakai material ini, misalnya : sarkofagus, punden berundak , lumpang batu, meja batu, arca, dll.
Di zaman sekarang batu Andesit ini masih digunakan sebagai material untuk nisan kuburan orang tionghoa , cobek, lumpang jamu, cungkup /kap lampu taman dan arca-arca untuk hiasan . Salah satu pusat kerajinan dari batu Andesit ini adalah Magelang.
Pusat kerajinan dan pemotongan batu Andesit juga terdapat didaerah Cirebon dan Majalengka Jawa Barat, karena di daerah ini banyak terdapat perbukitan yang merupakan daerah tambang Batu Andesit . Untuk batu Andesit di daerah cirebon umumnya berwarna abu-abu dan terdiri dari 2 jenis utama : Andesit Bintik dan Andesit Polos .
( Sumber : wikipedia.org )
Seiring dengan perkembangan zaman, batu Andesit tidak hanya digunakan untuk membuat nisan, cobek, lumpang jamu dan arca hiasan, banyak orang yang berinovasi dengan batu Andesit, salah satunya digunakan sebagai lantai dan dinding sebuah rumah atau bangunan.
Batu Andesit mempunyai beberapa jenis, jenis yang sering digunakan adalah batu Andesit bakar ( batu Andesit Polos Bakar dan batu Andesit Bintik Bakar ) kenapa dibakar ? Tentu saja pembakaran adalah proses finishing untuk permukaan Andesit agar mempunyai tekstur lebih kasar dibandingkan sebelumnya yang agak halus dan ada bekas guratan potongan mesin.
Selain itu proses pembakaran berguna jika batu dipasang di lantai tidak akan licin kalau di injak tetapi juga tidak terlalu kasar jika kita injak tanpa alas kaki, atau tidak selip ban jika dilindas kendaraan terutama yang dipasang di area halaman atau garasi rumah.
Berikut perbedaan batu Andesit sebelum dan sesudah proses pembakaran .
Contoh sebelum dibakar :
Contoh sesudah dibakar :
( Sumber :infobatualam.com )

