Tuesday, April 4, 2017

Parangan

Parangan adalah nama sebuah desa, desa kecil yang berada di pegunungan, bukan di lereng gunung atau puncak gunung, tapi di tengah-tengah pegunungan itu sendiri. Parangan termasuk wilayah Yogyakarta, tepatnya adalah Parangan, kelurahan Semin, kabupaten Gunungkidul, provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.


Parangan adalah desa dimana aku di besarkan, tidak ada yang bertanya, ingin tahu atau mungkin tertarik, tapi aku sama sekali tidak peduli, aku hanya ingin menulis tentang Parangan, agar suatu saat ketika anak cucuku browsing di Google aku berharap mereka menemukan tulisanku.

Parangan bukan desa yang asri seperti desa desa di tivi atau sinetron-sinetron yang sering kalian lihat, Parangan adalah desa yang tekstur tanahnya bebatuan, jadi sangat sulit untuk menentukan apa tanaman ciri khas pada desa kami, kami bisa menanam Padi, Jagung, Singkong, Kacang tanah, Kedelai, Ubi jalar, tapi kami tetap mengandalkan air hujan.

Karena tekstur ditempat kami bebatuan, maka sumber mata air sangatlah sedikit, tidak setiap rumah bisa menemukan sumber mata air di pekarangan rumah mereka sendiri, karena hal itulah kami juga tidak bisa membuat tampungan air atau waduk atau semacamnya untuk menunjang pertanian ditempat kami, satu-satunya harapan kami adalah apa yang turun dari langit.

Dari rumahku, untuk mencari sumber air bersih yang bisa digunakan untuk konsumsi sehari-hari harus berjalan kurang lebih 500 meter dengan jalan naik-turun, dengan kondisi jalan terjal, bebatuan, tidak mudah, sangat tidak mudah.

Ketika musim hujan, kami bisa mandi dan mencuci pakaian dengan air hujan, menampung air hujan di pekarangan rumah kami sendiri, bahkan dirumah saya ada 2 sumur yang sama-sama tidak ada sumber, hanya mengandalkan resapan air hujan, untuk konsumsi kami mengambil air dari sumur tetangga yang ketika hujan sumbernya ( sumber dari tanah, bukan resapan)  semakin besar. 

Tetapi, tenang saja itu sudah bertahun-tahun yang lalu , mungkin sekitar tahun 2011 desa kami mulai berinovasi, ada pemerintah yang berbaik hati mendanai pengeboran di salah satu sumber ditengah sawah, dan kami iuran membeli pipa untuk disalurkan kerumah kami masing-masing, bergotong royong memasang pipa-pipa itu agar sampai kerumah kami .

Satu masalah mulai berkurang, muncul masalah baru, ketika kemarau tiba sumber air menipis, kami mulai berebut ada yang berbuat curang, merusak salah satu saluran pipa sehingga ada beberapa rumah yang tidak bisa mendapatkan air.

Lambat laun, penduduk mulai sadar bahwa hal itu sama sekali tidak ada manfaatnya, maka mereka mulai bahu membahu memperbaiki pipa, membuat aturan yang lebih ketat agar tidak ada warga yang berbuat curang.

Itulah sedikit cerita tentang Desaku Parangan, bukan menjelek-jelekkan tapi hanya ingin berbagi cerita, agar beberapa orang diluar kami tahu, kami yang hidup di Desa Parangan, adalah generasi yang tangguh, terbiasa dengan situasi sulit, kami mempunyai masalah dan kami menemukan solusinya. 

Siapapun kalian yang membaca tulisanku, sempatkan berkunjung ke Parangan, kami menerima tamu dengan ramah .




Comments
0 Comments

No comments: